<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Novel Laskar Pelangi</title>
	<atom:link href="http://freecentro.wordpress.com/category/novel-laskar-pelangi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://freecentro.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Jul 2009 07:20:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='freecentro.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/82b987f05d34376f731417c797be2d4b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title> &#187; Novel Laskar Pelangi</title>
		<link>http://freecentro.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://freecentro.wordpress.com/osd.xml" title="" />
		<item>
		<title>Jilid 1: Sepuluh Murid Baru</title>
		<link>http://freecentro.wordpress.com/2009/01/22/jilid-1-sepuluh-murid-baru/</link>
		<comments>http://freecentro.wordpress.com/2009/01/22/jilid-1-sepuluh-murid-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 17:35:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>................ Ari Nurdiansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Laskar Pelangi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://freecentro.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Sebatang  pohon filicium  tua  yang  riang  meneduhiku.  Ayahku  duduk  di  sampingku, memeluk  pundakku  dengan  kedua lengannya  dan  tersenyum  mengangguk-angguk  pada setiap orangtua dan anak-anaknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=freecentro.wordpress.com&blog=2943580&post=164&subd=freecentro&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Sebatang  pohon filicium  tua  yang  riang  meneduhiku.  Ayahku  duduk  di  sampingku, memeluk  pundakku  dengan  kedua lengannya  dan  tersenyum  mengangguk-angguk  pada setiap orangtua dan anak-anaknya  yang duduk berderet-deret di bangku panjang lain di depan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD. Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu berdiri  dua  orang  guru  seperti  para  penyambut  tamu  dalam  perhelatan.  Mereka  adalah seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan  seorang  wanita  muda  berjilbab,  Ibu  N.A.  Muslimah  Hafsari  atau  Bu  Mus.  Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum.<span id="more-164"></span></p>
<p>Namun,  senyum  Bu  Mus  adalah  senyum  getir  yang  dipaksakan  karena  tampak jelas beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali menghitung  jumlah  anak-anak  yang  duduk  di  bangku  panjang.  Ia  demikian  khawatir sehingga  tak  peduli  pada  peluh  yang  mengalir  masuk  ke  pelupuk  matanya.  Titik-titik keringat  yang  bertimbulan  di  seputar  hidungnya  menghapus  bedak  tepung  beras  yang dikenakannya,  membuat  wajahnya  coreng  moreng  seperti  pameran  emban  bagi permaisuri dalam Dul Muluk, sandiwara kuno kampung kami. â€œSembilan orang â€¦ baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satuâ€¦,â€ katanya gusar pada bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong.<br />
Aku  juga  merasa  cemas.  Aku  cemas  karena  melihat  Bu  Mus  yang  resah  dan karena  beban  perasaan  ayahku  menjalar  ke  sekujur  tubuhku.  Meskipun  beliau  begitu<br />
ramah pagi ini tapi lengan kasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung yang  cepat.  Aku  tahu  beliau  sedang  gugup  dan  aku  maklum  bahwa  tak  mudah  bagi seorang  pria  beruisa  empat  puluh  tujuh  tahun,  seorang  buruh  tambang  yang  beranak banyak dan bergaji kecil, utnuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak berarti  mengikatkan  diri  pada  biaya  selama  belasan  tahun  dan  hal  itu  bukan  perkara gampang bagi keluarga kami.<br />
â€œKasihan ayahku â€¦.â€<br />
Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya. â€œBarangkali  sebaiknya  aku  pulang  saja,  melupakan  keinginan  sekolah,  dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli â€¦.â€ Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah orangtua di depanku</p>
<p>mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena pikiran mereka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh di sana. Para orangtua ini sama  sekali  tak  yakin  bahwa  pendidikan  anaknya  yang  hanya  mampu  mereka  biayai paling  tinggi  sampai  SMP  akan  dapat  mempercerah  masa  depan  keluarga.  Pagi  ini mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf. Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali seorang  anak  lelaki  kecil  kotor  berambut  keriting  merah  yang  meronta-ronta  dari pegangan  ayahnya.  Ayahnya  itu  tak  beralas  kaki  dan  bercelana  kain  belacu.  Aku  tak mengenal anak beranak itu. Selebihnya  adalah  teman  baikku.  Trapani  misalnya,  yang  duduk  di  pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa.  Kami  bertetangga  dan  kami  adalah  orang-orang  Melayu  belitong  dari  sebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orangtua mendaftarkan  anaknya  di  sini.  Pertama,  karena  sekolah  Muhammadiyah  tidak menetapkan  iuran  dalam  bentuk  apa  pun,  para  orangtua  hanya  menyumbang  sukarela semampu mereka. Kedua, karena firasat, anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang  mudah  disesatkan  iblis  sehingga  sejak  usia  muda  harus  mendapatkan  pendadaran Islam yang tangguh.</p>
<p>Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah mana pun. Bu  Mus  yang  semakin  khawatir  memancang  pandangannya  ke  jalan  raya  di seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru. Kami prihatin melihat  harapan  hampa  itu.  Maka  tidk  seperti  suasana  di  SD  lain  yang  penuh kegembiraan  ketika  menerima  murid  angkatan  baru,  suasana  hari  pertama  di  SD Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak<br />
Harfan. Guru-guru  yang  sederhana  ini  berada  dalam  situasi  genting  karena  Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya  mendapat  murid  baru  kurang  dari  sepuluh  orang  maka  sekolah  paling  tua  di Belitong  ini  harus  ditutup.  Karena  itu  sekarang  Bu  Mus  dan  Pak  Harfan  cemas  sebab sekolah  mereka  akan  tamat  riwayatnya,  sedangkan  para  orangtua  cemas  karena  biaya, dan  kami,  sembilan  anak-anak  kecil  iniâ€”yang  terperangkap  di  tengahâ€”cemas  kalau-kalau kami tak jadi sekolah.</p>
<p>Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini Pak  Harfan  pesimis  dapat  memenuhi  target  sepuluh.  Maka  diam-diam  beliau  telah mempersiapkan sebuah  pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua murid pada kesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk memnuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati. â€œKita tunggu sampai pukul sebelas,â€ kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh orangtua yang telah pasrah. Suasana hening.<br />
Para  orangtua  mungkin  menganggap  kekurangan  satu  murid  sebagai  pertanda bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaiknya didaftarkan pada para juragan saja. Sedangkan  aku  dan  agaknya  juga  anak-anak  yang  lain  merasa  amat  pedih:  pedih  pada orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah tua  yang  tutup  justru  pada  hari  pertama  kami  ingin  sekolah,  dan  pedih  pada  niat  kuat kami  untuk  belajar  tapi  tinggal  selangkah  lagi  harus  terhenti  hanya  karena  kekurangan satu murid. Kami menunduk dalam-dalam.<br />
Saat  itu  sudah  pukkul  sebelas  kurang  lima  dan  Bu  Mus  semakin  gundah.  Lima tahun  pengabdiannya  di  sekolah  melarat  yang  amat  ia  cintai  dan  tiga  puluh  dua  tahun pengabdian tanpa pamrih pada Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu ini.<br />
â€œBaru sembilan orang Pamanda Guru â€¦,â€ ucap Bu Mus bergetar sekali lagi. Ia sudah tak bisa berpikir jernih. Ia berulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah diketahui semua orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.<br />
Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima dan jumlah murid tak  juga  genap  sepuluh.  Semangat  besarku  untuk  sekolah  perlahan-lahan  runtuh.  Aku melepaskan  lengan  ayahku  dari  pundakku.  Sahara  menangis  terisak-isak  mendekap ibunya karena ia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepatu, kaus  kaki,  jilbab,  dan  baju,  serta  telah  punya  buku-buku,  botol  air  minum,  dan  tas punggung yang semuanya baru. Pak  Harfan  menghampiri  orangtua  murid  dan  menyalami  mereka  satu  per  satu. Sebuah  pemandangan  yang  pilu.  Para  orangtua  menepuk-nepuk  bahunya  untuk membesarkan hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan pidato  terakhir.  Wajahnya  tampak  putus  asa.  Namun  ketika  beliau  akan  mengucapkan kata  pertama  Assalamuâ€™alaikum  seluruh  hadirin  terperanjat  karena  Tripani  berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu.</p>
<p>â€œHarun!â€ Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria kurus tinggi berjalan terseok-seok.  Pakaian  dan  sisiran  rambutnya  sangat  rapi.  Ia  berkemeja  lengan  panjang putih yang dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x sehingga jika berjalan  seluruh  tubuhnya  bergoyang-goyang  hebat.  Seorang  wanita  gemuk  setengah baya  yang  berseri-seri  susah  payah  memeganginya.  Pria  itu  adalah  Harun,  pria  jenaka sahabat  kami  semua,  yang  sudah  berusia  lima  belas  tahun  dan  agak  terbelakang mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahan menggandengnya. Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan Pak Harfan.<br />
â€œBapak Guru â€¦,â€ kata ibunya terengah-engah.<br />
â€œTerimalah  Harun,  Pak,  karena  SLB  hanya  ada  di  Pulau  Bangka,  dan  kami  tak punya  biaya  untuk  menyekolahkannya  ke  sana.  Lagi  pula  lebih  baik  kutitipkan  dia  di sekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku â€¦.â€ Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjang-panjang. Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus sambil mengangkat bahunya.<br />
â€œGenap sepuluh orang â€¦,â€ katanya. Harun  telah  menyelamatkan  kami  dan  kami  pun  bersorak.  Sahara  berdiri  tegak merapikan  lipatan  jilbabnya  dan  menyandang  tasnya  dengan  gagah,  ia  tak  mau  duduk lagi. Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/freecentro.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/freecentro.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/freecentro.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/freecentro.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/freecentro.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/freecentro.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/freecentro.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/freecentro.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/freecentro.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/freecentro.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=freecentro.wordpress.com&blog=2943580&post=164&subd=freecentro&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://freecentro.wordpress.com/2009/01/22/jilid-1-sepuluh-murid-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9eefd26e9c70718787d0c1108c41244f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">freecentro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sedikit Cerita Tentang &#8220;LASKAR PELANGI&#8221;</title>
		<link>http://freecentro.wordpress.com/2009/01/22/sedikit-cerita-tentang-laskar-pelangi/</link>
		<comments>http://freecentro.wordpress.com/2009/01/22/sedikit-cerita-tentang-laskar-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 17:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>................ Ari Nurdiansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Laskar Pelangi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://freecentro.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Kisah masa kecil 10 anak(pada akhir cerita bertambah 1) kampung miskin yang bersekolah di sekolah yang juga miskin dan lebih mirip gudang kopra. Semangat mereka untuk memperoleh pendidikan begitu memberi insprirasi:
1. Ikal (sang juara kelas yg jadi tukang sortir di kantor pos, namun akhirnya bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri).
2. Lintang (Isaac Newton yang lahir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=freecentro.wordpress.com&blog=2943580&post=162&subd=freecentro&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kisah masa kecil 10 anak(pada akhir cerita bertambah 1) kampung miskin yang bersekolah di sekolah yang juga miskin dan lebih mirip gudang kopra. Semangat mereka untuk memperoleh pendidikan begitu memberi insprirasi:</p>
<p>1. Ikal (sang juara kelas yg jadi tukang sortir di kantor pos, namun akhirnya bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri).<br />
2. Lintang (Isaac Newton yang lahir di keluarga nelayan miskin, namun kejeniusannya harus berakhir di sebuah bedeng kumuh, karena kematian ayahnya 4 bulan sebelum ujian akhir SMP. selama sekolah, tiap hari harus menempuh jarak 40km ke sekolahnya).<br />
3. Mahar (seniman eksentrik yang selalu dianggap tidak masuk akal, namun karya2nya selalu membanggakan sekolah&amp;teman2nya. Dan akhirnya menjadi penulis.)<span id="more-162"></span>4. A kiong (keturunan tionghoa, satu-satunya alsan kenapa ayahnya menyekolahkannya di sekolah islam adalah karena sekolah itu gratis. Keluargannya sama miskinnya dengan teman2nya).<br />
5. Syahdan (anak yang paling tidak menonjol, selalu ingin menjadi aktor, meski hanya kebagian peran jadi tuyul atau jin. akhirnya menjadi network designer, dia yang paling sukses diantara anggota laskar pelangi).<br />
6. Kucai (sang ketua kelas yang penglihatannya melenceng 20derajat. akhirnya bisa menjadi politikus di belitong).<br />
7. Borek (lebih suka dipanggil samson, maniak otot, akhirnya menjadi kuli di toko milik a kiong&amp;sahara).<br />
8. Trapani (sang juara tiga yang tampan, dan begitu menyayangi ibunya. Akhirnya harus dirawat di RS Jiwa karena menderita mother complex).<br />
9. Sahara (anak gadis yang taat beragama dan pantang berbohong, selalu setia mendengar cerita2 harun).<br />
10. Harun (anak kecil yg &#8216;terperangkap&#8217; dalam tubuh orang dewasa. Selalu bercerita tentang kucingnya, selalu, setiap hari, sepanjang tahun).<br />
11. Flo (satu-satunya anak orang kaya yang sekolah di sana. Ia pindah dari sekolahnya yang kaya raya ke sekolah miskin karena begitu kagum pada mahar dan begitu tertarik pada hal2 mistis. Akhirnya menjadi guru di sekolah islam).</p>
<p>And the last, sekolah mereka harus ditutup karena tidak mendapat muri. Seru deh kalo dibaca semuanya&#8230;:p</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/freecentro.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/freecentro.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/freecentro.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/freecentro.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/freecentro.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/freecentro.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/freecentro.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/freecentro.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/freecentro.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/freecentro.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=freecentro.wordpress.com&blog=2943580&post=162&subd=freecentro&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://freecentro.wordpress.com/2009/01/22/sedikit-cerita-tentang-laskar-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9eefd26e9c70718787d0c1108c41244f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">freecentro</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>